7 Juni 2017

ASUHAN KEPERAWATAN APENDISITIS


ASKEP APPENDISITIS 
I. PENGERTIAN 
Appendisitis yaitu inflamasi akut pada appendisits verniformis serta adalah penyebabnya paling umum untuk bedah abdomen darurat (Brunner & Suddart, 1997) 
Unduh Askep Appendicitis 
II. ETIOLOGI 
Appendisitis terhalang atau terlipat oleh : 
a. Fekalis/massa keras dari feses 
b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid 
c. Benda asing 

PATOFISIOLOGI 

Appendisitis yang terinflamasi serta alami edema. Sistem inflamasi tingkatkan desakan intra luminal, menyebabkan nyeri abdomen atas atau menebar hebat dengan progresif dalam sebagian jam, trlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. Appendiks terinflamasi diisi pus 

IV. PATHWAYS 
Untuk Buka Click DI SINI 
Untuk Download click DISINI 
V. TANDA DAN GEJALA 
• Nyeri kuadran kanan bawah serta umumnya demam ringan 
• Mual, muntah 
• Anoreksia, malaisse 
• Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney 
• Spasme otot 
• Konstipasi, diare 
(Brunner & Suddart, 1997) 

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 
• Sel darah putih : lekositosis di atas 12000/mm3, netrofil bertambah hingga 75% 
• Urinalisis : normal, namun eritrosit/leukosit mungkin saja ada 
• Photo abdomen : Ada pergeseran material pada appendiks (fekalis) ileus terlokalisir 
• Sinyal rovsing (+) : dengan lakukan palpasi kuadran bawah kiri yang dengan paradoksial mengakibatkan nyeri yang merasa dikuadran kanan bawah 
(Doenges, 1993 ; Brunner & Suddart, 1997) 

VII. KOMPLIKASI 
• Komplikasi paling utama yaitu perforasi appediks yang bisa berkembang jadi peritonitis atau abses apendiks 
• Tromboflebitis supuratif 
• Abses subfrenikus 
• Obstruksi intestinal 

VIII. PENATALAKSANAAN 
• Pembedahan diindikasikan apabila diagnosis apendisitis sudah ditegakkan 
• Antibiotik serta cairan IV diberi hingga pembedhan dikerjakan 
• Analgetik diberi sesudah diagnosis ditegakkan 
Apendektomi dikerjakan sesegera mungkin saja untuk turunkan kemungkinan perforasi. 
(Brunner & Suddart, 1997) 

IX. PENGKAJIAN 
1. Kesibukan/istirahat : Malaise 
2. Aliran : Tachikardi 
3. Eliminasi 
• Konstipasi pada awitan awal 
• Diare (terkadang) 
• Distensi abdomen 
• Nyeri tekan/terlepas abdomen 
• Penurunan bising usus 
4. Cairan/makanan : anoreksia, mual, muntah 
5. Kenyamanan 
Nyeri abdomen sekitaran epigastrium serta umbilikus yang bertambah berat serta terlokalisasi pada titik Mc. Burney bertambah karna jalan, bersin, batuk, atau nafas dalam 
6. Keamanan : demam 
7. Pernafasan 
•Tachipnea 
•Pernapasan dangkal 
(Brunner & Suddart, 1997) 

X. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI 
1. Kemungkinan tinggi berlangsung infeksi b. d tidak adekuatnya pertahanan paling utama, perforasi, peritonitis sekunder pada sistem inflamasi 
Maksud : tidak berlangsung infeksi 
Persyaratan : 
• Pengobatan luka jalan baik 
• Tak ada sinyal infeksi seperti eritema, demam, drainase purulen 
• Desakan darah 90/60 mmHg 
• Nadi lebih 100x/menit dengan pola serta kedalaman normal 
• Abdomen lunak, tak ada distensi 
• Bising usus 5-34 x/menit 
Intervensi : 
a. Kaji serta tulis kwalitas, tempat serta durasi nyeri. Cermati nyeri sebagai hebat 
b. Pantau serta tulis sinyal vital pada penambahan suhu, nadi, ada pernafasan cepat serta dangkal 
c. Kaji abdomen pada kekakuan serta distensi, penurunan bising usus 
d. Kerjakan perawatan luka dengan teknik aseptik 
e. Saksikan insisi serta balutan. Tulis karakteristik drainase luka/drain, eriitema 
f. Kerjasama : antibiotik 

2. Nyeri b. d distensi jaringan usus oleh onflamasi, ada insisi bedah 
Persyaratan hasil : 
• Persepsi subyektif mengenai nyeri menurun 
• Terlihat rileks 
• Pasien bisa istirahat dengan cukup 
Intervensi : 
a. Kaji nyeri. Tulis tempat, karakteristik nyeri 
b. Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler 
c. Dorong untuk ambulasi dini 
d. Sampaikan teknik untuk pernapasan diafragmatik lambat untuk menolong melepas otot yang tegang 
e. Jauhi desakan ruang popliteal 
f. Beri antiemetik, analgetik sesuai sama program 
3. Kemungkinan tinggi kekurangan cairan badanb. d inflamasi peritoneum dengan cairan asing, muntah praoperasi, pembatasan pasca operasi 
Persyaratan hasil ; 
• Membran mukosa lembab 
• Turgor kulit baik 
• Haluaran urin adekuat : 1 cc/kg BB/jam 
• Sinyal vital stabil 
Intervensi : 
a. Pantau desakan darah serta sinyal vial 
b. Kaji turgor kulit, membran mukosa, capilary refill 
c. Monitor input serta haluaran. Tulis warna urin/konsentrasi 
d. Auskultasi bising usus. Tulis kelancara flatus 
e. Beri perawatan mulut sering 
f. Beri beberapa kecil minuman jernih apabila pemasukan peroral diawali serta teruskan dengan diet sesuai sama toleransi 
g. Beri cairan IV serta Elektrolit 

4. Kurang pengetahuan mengenai keadaan prognosis serta keperluan penyembuhan b. d kurang info 
Persyaratan : 
• Menyebutkan pemahamannya mengenai proese penyakit, penyembuhan 
• Berpartisipasidalam program penyembuhan 
Intervensi 
a. Kaji lagi embatasan kesibukan paska oerasi 
b. Dorong kesibukan sesuai sama toleransi dengan periode istirahatperiodik 
c. Diskusikan perawatan insisi, termasuk juga ganti balutan, pembatasan mandi 
d. Identifikasi tanda-tanda yang membutuhkan pelajari medik, contoh penambahan nyeri, edema/eritema luka, ada drainase 
(Doenges, 1993) 

DAFTAR PUSTAKA 
1. Doenges, Marilynn E. (1993). Gagasan Bimbingan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta. EGC 
2. Price, SA, Wilson, LM. (1994). Patofisiologi Beberapa Sistem Penyakit, Buku Awal. Edisi 4. Jakarta. EGC 
3. Smeltzer, Bare (1997). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC 
4. Swearingen. (1996). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 2. KJakarta. EG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top