10 Februari 2016

Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TBC)

Asuhan Keperawatan  (Askep) Tuberkulosis Paru (TBC) - Adalah penyakit menular yang diakibatkan oleh adanya kuman TBC (Myobacterium tuberculosis). Umumnya, kuman tersebut menyerang di daerah paru - paru tapi jangan salah bahwa komplikasinya dapat mengenai organ - organ di sekitarnya

Menurut dr. Jan Tambayong, jenis penyakit ini memang disebabkan oleh kuman TBC mengingat termasuk kuman batang tahan asam baik secara patogen maupun saprofit. Bila dilihat dari segi etiologi, sebagian besar kuman yang berada di jaringan tubuh akan menjadi parasit intraseluler yakni sitoplasma makrofag. Karena sifatnya dormant (tertidur selama bertahun - tahun) maka dia dapat bangkit sebagai tuberkulosis aktif.
Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TBC)
Berdasar patofisiologi penyakit TB paru, kuman akan masuk melalui saluran pernafasan, saluran cerna atau luka terbuka di area kulit. Lalu ketika sudah berada di dalam tubuh, mycobacterium tuberkulosis biasanya langsung menempel di jalan nafas bahkan dalam keadaan tertentu mampu menetap dan berkembang biak menjadi sitoplasma makroflag. Kemudian membentuk sarang TB penumonia kecil yang bermanifestasi klinis radang saluran pernafasan (limfangitis regional) hinggga meluar ke jaringan - jaringan dalam organ paru.

Bicara soal gejala utamanya, menurut depkes RI. adalahj batuk terus menerus dan berdahak sampai 3 minggu atau lebih. Selain itu ada banyak sekali keluhan - keluhan yang dirasakan oleh pasien mulai dari demam tinggi (40-41C), batuk berdarah (akibat iritasi pada bronkus), sesak nafas (ditemukan pada TB lanjutan), nyeri dada, malaise (tidak nafsu makan, badan kurus, sakit kepala, meriang, nyeri otot dan keringat malam.

Lanjut ke pemeriksaaan diagnostik, ada beberapa hal penting yang harus dilakukan untuk pengakkan diagnosa secara medis diantaranya pemeriksaan radiologi (memastikan adanya lesi tuberkulosis), laboratorium darah (lekosit dan LED biasanya tinggi), tes tuberkulin ( mantoux Tes atau PPD) dan sputum (BTA ditemukan sekurang - kurangnya 3 batang kuman). Pada kasusnya, terapi langsung pada penderita TB terbagi menjadi 2 yakni

1. Tahap intensif, artinya penderita (pasien) harus mendapatkan obat setiap hari demi mencegah kekebalan terhadap rifampisin. Jika saja penanganan ini sudah tepat, bisa dipastikan dalam kurang waktu 2 minggu tidak akan menjadi penyakit menular. Namun, pengawasan ketat tetap dilakukan.

2. Tahap lanjutan, bahwa penderita memperoleh obat dalam jangka panjang, oleh karenanya butuh ketelitian dan ketepatan untuk membunuh kuman TBC persisten (dormant) supaya tak kambuh kembali.

Memasuki data pengkajian, bagi pasien dengan kesadaran penuh sebaiknya difokuskan saja ada data subyektif dan obyektif. Selain itu, pola kesehatan fungsional juga tidak boleh dilupakan demi menguatkan penegakkan diagnosa Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru. Adapun data penunjang seperti laboratorium, rontgen dan sebagainya sudah dijelaskan di paragraf awal.

Sedangkan prioritas diagnosa keperawatan mencakup

1.Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d akumulasi secret kental (secret darah),
2.Gangguan pertukaran gas b.d kerusakan membran alveoler-kapiler, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia,
3.Hipertermia b.d proses inflamasi,
4.Resiko tinggi infeksi b.d kerusakan jaringan menurunya kerja sillia dan pertahanan primer tidak adekuat
5.Gangguan rasa nyaman nyeri b.d nyeri dadat akibat pleuritis.
Baca artikel terkait Pengertian Asuhan Keperawatan
Terkait intervensi maupun proses evaluasi, lebih lengkapnya, silahkan download Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TBC) dibawah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top